Minggu, 06 Mei 2012

Makalah Teori Humanistik : Carl Rogers


BAB I
PENDAHULUAN
1.1          Latar Belakang Masalah
Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia / individu. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.
Tokoh psikologi humanistik selain Abraham Maslow ialah Carl Rogers ( 1902-1987 ). Carl Rogers menjadi sangat terkenal karena metode terapi yang dikembangakannya, yaitu terapi yang berpusat pada individu atau yang lebih dikenal dengan Teori Nondirektif.
Secara luas lagi mengenai teori ini akan dibahas di bab pembahasan pada makalah ini. Dari sosok Carl Rogers dengan teorinya yang begitu fenomenal, dan berbeda dibanding yang lain, penyusun bermaksud membahasnya dengan menitikberatkan pada pokok-pokok teori Rogers dan teori yang dikembangkannya.

1.2          Rumusan Masalah
1.    Bagaimana sudut pandang Carl Rogers sebagai tokoh humanistik tentang Teori Humanistik?
2.    Bagaimanakah konsep diri (self), organisme, dan aktualisasi diri (medan fenomenal) sebagai bagian pokok teori Carl Rogers?
3.    Bagaimanakah aplikasi metode teori psikoterapi yang dikemukakan oleh Carl Rogers?

1.3          Tujuan Masalah
1.    Mengetahui sudut pandang Carl Rogers sebagai tokoh humanistik tentang Teori Humanistik.
2.    Mengetahui tentang konsep diri (self), organisme, dan aktualisasi diri (medan fenomenal) sebagai bagian pokok teori Carl Rogers.
3.    Mengetahui aplikasi metode teori psikoterapi yang dikemukakan oleh Carl Rogers.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1          Sudut Pandang Carl Rogers Sebagai Tokoh Humanistik Tentang Teori Humanistik.
Sepanjang sejarah keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab tingkah lakunya dan semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum mengenai  iner entity ini adalah jiwa (soul). Menurut teori “jiwa” gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan substansi khusus yang secara khas berbeda dari subtansi dari subtansi kebendaan. Dalam teori keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.
Rogers menyebut dirinya sebagai orang yang berpandangan humanistik dalam psikologi kontemporer. Psikologi humanistik dari satu pihak menentang apa yang disebut sebagai pesimisme suram dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan psikoanalitik tentang manusia dan di lain pihak menentang konsepsi robot tentang manusia yang digambarkan dalam behaviorisme. Psikologi humanistik lebih  penuh harapan dan optimistik tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orang tuanya, serta pengaruh-pengruh sosial lainnya. Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini dapat diatasi apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Rogers yakin apabila tanggung jawab ini di terima, maka kita akan segera melihat kalau saja represi perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat dicegah, munculnya seorang pribadi baru yang penuh kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang yang menjelajah dunia batin lebih dari pada dunia luar, yang memandang sikap serba tunduk pada kebiasaan-kebiasaan pada dogma tentang autoritas.
Teori  Rogers  juga mempunyai kesamaan dengan psikologi ekstensial. Yang pada dasarnya teori ini  adalah fenomenologis, artinya Rogers memberikan tekanan yang kuat pada pengalaman-pengalaman sang pribadi, perasaan-perasaan dan nilai-nilainya, dan semua yang teringkas dalam ekspresi “kehidupan batin”. Dari pengalaman-pengalaman inilah mula-mula Rogers mengembangkan teori tentang terapi dan perubahan kepribadian. Ciri utama konseptualisasi dari proses terapeutik ini adalah bahwa para  klien mempersepsikan bahwa ahli terapi memiliki “unconditional positive regard” (penghargaan positif tanpa syarat) terhadap mereka dan suatu pemahaman empatik terhadap kerangka acuan internal (internal frame of reference) mereka, maka proses perubahan mulai bergerak. Selama proses ini, klien-klien semakin lebih menyadari perasaan dan pengalaman mereka yang sebenarnya dan konsep diri mereka menjadi lebih selaras dengan seluruh pengalaman organisme.
Apabila keselarasan yang bulat tercapai, maka klien akan menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Menjadi orang  yang berfungsi sepenuhnya meliputi sifat-sifat seperti keterbukaan terhadap pengalaman, tidak adanya sifat defensif, kesadaran yang cermat, penghargaan diri tanpa  syarat, dan hubungan yang harmonis dengan orang-orang lain.

2.2          Konsep Diri (self concept), Organisme, dan Aktualisasi Diri (medan fenomenal) Sebagai Bagian Pokok Teori Carl Rogers.
a.    Struktur Kepribadian
Ada dua konstruk yang sangat penting dalam teori Rogers dan bahkan dapat dianggap sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua teori ini adalah organisme dan diri (self). Secara psikologis, organisme adalah lokus atau tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalaman ini merupakan medan fenomenal. Medan fenomenal adalah “frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. Medan fenomenal tidak identik dengan medan kesadaran. Kesadaran adalah perlambangan dari sebagian pengalaman kita. Dengan demikian, medan fenomenal terdiri dari pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi, organisme dapat membedakan kedua jenis pengalaman tersebut dan bereaksi terhadap pengalaman yang tidak dilambangkan. Rogers menyebut peristiwa ini subsepsi (subception).
Pengalaman mungkin tidak tepat dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak serasi. Uji terhadap kenyataan ini memberikan orang pengetahuan yang dapat diandalkan tentang dunia sehingga dengan demikian orang dapat bertingkah laku secara realistik. Namun beberapa ada yang tidak di uji sehingga dapat menyebabkan orang bertingkah laku tidak realistik dan akan merugikan diri sendiri.
Rogers memecahkan paradoks dengan menyimpang dalam rangka pemikiran fenomenologi murni. Meskipun ia tidak menyinggung tentang kenyataan yang sebenarnya, namun jelas orang-orang harus memiliki konsepsi tentang standart kenyataan luar atau impersonal, apabila tidak demikian maka tidak dapat menguji kenyataan batin (subjektif) dan kenyataan objektif. Dari sini orang berusaha membedakan keduanya melalui hipotesis tentang kenyataan benar atau salah. Orang akan menunda keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Misalnya, seseorang yang akan menggarami makanannya berhadapan dengan dua tempat bumbu. Satu diantaranya berisi garam dan yang lainnya berisi merica. Orang tersebut mengira bahwa tempat yang berlubang besar adalah garam, tetapi karena tidak yakin maka ia menuangkan sedikit isinya pada telapak tangannya. Apabila partikel-partikel yang keluar adalah putih dan bukan hitam, maka orang tersebut boleh merasa yakin bahwa itu garam. Orang yang sangat teliti mungkin merasa perlu mencicipinya sedikit, sebab bisa jadi itu merica putih dan bukan garam. Apa yang dikemukakan dengan contoh ini adalah suatu pengujian ide-ide seseorang dengan berbagai data inderia. Pengujian tersebut merupakan pengecekan informasi yang belum pasti melalui pengetahuan yang lebih langsung. Dalam kasus ini, ujian terakhir adalah rasanya, suatu cita rasa tertentu bahwa itu garam.
Contoh tadi menggambarkan suatu kondisi ideal. Menurut Rogers, pribadi yang utuh adalah orang yang sepenuhnya terbuka pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang dialaminya dari dunia luar. Sebagian dari medan fenomenal lama kelamaan akan terpisah. Ini adalah diri. Diri atau konsep diri merupakan gestalt konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari persepsi-persepsi tentang sifat-sifat tentang diri subyek atau diri objek dan persepsi-persepsi tentang hubungan-hubungan antara diri subyek atau diri objek dengan orang-orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat pada persepsi ini.
Disamping diri sebagaimana adanya, terdapat suatu diri ideal. Yaitu tentang apa yang diinginkan orang tentang dirinya. Pentingnya konsep-konsep struktural, menjadi jelas pada pembahasan Rogers tentang kongruensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana dipersepsikan dan pengalaman aktual organisme.
1.    Incongruence
Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.
2.    Congruence
Congruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya incongruence ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan congruence-nya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.
Dampak dari incongruence adalah Rogers berfikir bahwa manusia akan merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatannya sehingga mereka mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan tingkat incongruence yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus menerus.
Contoh: Erin yakin bahwa dia merupakan orang yang sangat dermawan, sekalipun dia seringkali sangat pelit dengan uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang sedikit atau bahkan tidak memberikan tips sama sekali saat di restoran. Ketika teman makan malamnya memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya, dia tetap bersikukuh bahwa tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan pelayanan yang dia terima. Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian tipsnya pada pelayanan yang buruk, maka dia dapat terhindar dari kecemasan serta tetap menjaga konsep dirinya yang katanya dermawan.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).
• Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.
• Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.
Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.
a.    Dinamika Kepribadian
Organisme mempunyai satu kecenderungan dan kerinduan dasar yakni mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan organisme yang mengalami. Kecenderungan  untuk mengaktualisasi ini bersifat selektif, menaruh perhatian hanya pada aspek-aspek lingkungan yang memungkinkan orang bergerak secara konstruktif kearah pemenuhan dan kebulatan. Di satu pihak terdapat satu kekuatan yang memotivasikan, yakni dorongan untuk mengaktualisasikan iri, di lain pihak hanya ada satu tujuan hidup, yakni menjadi pribadi yang teraktualisasikan dirinya atau pribadi yang utuh.
Organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakan oleh hereditas. Ketika organism itu matang, maka ia makin berdiferensasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Tedensi dasar pertumbuhan ini-mengaktualisasikan dan mengekspansikan diri sendiri- tampak paling jelas sekali bila individu di amati dalam suatu jangka waktu yang lama. Ada suatu gerak maju pada kehidupan setiap orang; tendensi yang tak henti-hentinya inilah yang merupakan satu-satunya kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan oleh ahli terapi untuk mengadakan perbaikan dalam diri klien.
Rogers menambahkan suatu cirri baru pada konsep pertumbuhan ketika ia mengamati bahwa tendensi  gerak maju hanya dapat beroprasi bila pilihan-pilihan dipresepsikan dengan jelas dan dilambangkan dengan baik. Seseorang tidak dapat mengaktualisasikan dirinya kalau ia tidak dapat membedakan antara cara-cara tingkah laku progresif dan regresif. Tidak ada suara hati dari dalam yang akan memberitahu seseorang manakah jalan kemajuan itu, tidak ada keharusan organismik yang akan mendorongnya maju. Orang harus mengetahui sebelum mereka dapat memilih, tetapi bila mereka benar-benar mengetahui maka mereka selalu memilih untuk bertumbuh dan bukan untuk mundur.
Pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu persepsikan. Pernyataan yang jelas-jelas menyinggung tentang adanya banyak “kebutuhan” ini tidak berlawanan dengan pengertian motif tunggal. Meskipun da banyak kebutuhan, namun semuanya mengabdi kepada tendensi dasar organisme untuk mempertahankan dengan mengembangkan diri.
Pada tahun 1959, Rogers mengemukakan perbedaan antara tendensi mengaktualisasikan pada organism dan tendensi mengaktualisasikan diri.
“Menyusul perkembangan struktur diri tendensi umum kearah aktualisasi ini juga muncul dalam aktualisasi bagian pengalaman organisme yang dilambangkan dalam diri. Apabila diri da seluruh pengalaman organisme sesuai , maka tendensi aktualisasi tetap padu. Apabila diri  dan pengalaman tidak selaras maka tendensi umum untuk mengaktualisasikan organisme mungkin berlangsung dengan tujuan yang berlawanan dengan subsistem motif tersebut, yakni tendensi untuk mengaktualisasikan diri (1959, halaman 196-197).”
Meskipun teori Rogers tentang motivasi bersifat monistik, ia telah memberi perhatian khusus pada dua kebutuhan, yakni kebutuhan akan penghargaan yang positif dan kebutuhan akan harga diri. Keduanya adalah kebutuhan yang dipelajari. Kebutuhan yang pertama terjadi pada masa bayi sebagai akibat karena bayi dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan yang kedua terbentuk karena bayi menerima penghargaan positif dari positif dari orang lain. Kedua kebutuhan ini, sebagaimana akan kita lihat pada bagian berikut, bisa juga berselisih tujuan dengan tendensi aktualisasi dengan mendistorsikan pengalaman-pengalaman organisme.


b.    Perkembangan Kepribadian
Meskipun organisme dan diri mempunyai tendensi inhern untuk mengaktualisasikan diri, namun sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan khususnya oleh lingkungan sosial.  Rogers tidak memberikan jadwal waktu tahap-tahap penting yang dilalui orang pada masa bayi hingga masa dewasa. Namun, ia memusatkan perhatian paada cara-cara bagaimana penilaian orang-orang pada individu, khususnya selama masa kanak-kanak, cenderung memisahkan pengalaman-pengalaman organisme dan pengalaman-pengalaman diri. Apabila penilaian-penilaian ini semata-mata bernada positif, yang oleh Rogers disebut unconditional positive regard atau penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak akan terjadi ketidaksesuaian antara organisme dan diri.
Sedikit demi sedikit sepanjang masa kanak-kanak, konsep diri menjadi semakin menyimpang justru disebabkan karena penilaian orang-orang lain. Akibatnya, suatu pengalaman organismik yang tidak selaras dengan konsep diri yang tak wajar ini akan dirasakan sebagai suatu ancaman dan menimbulkan kecemasan. Untuk melindungi keutuhan konsep diri, maka pengalaman-pengalaman yang mengancam ini tidak akan dilambangkan atau diberi suatu perlambangan yang menyimpang.
Menyangkal suatu pengalaman tidak sama dengan mengabaikannya. Menyangkal  berarti memalsukan realitas baik dengan menyatakannya tidak ada atau dengan mempersepsikannya secara menyimpang. Apabila individu mempersepsikan dan menerima segala pengalaman sensorik dan  viskeralnya kedalam satu sistem yang konsisten dan terintegrasi, maka ia pasti lebih memahami orang-orang lain dan lebih menerima orang lain sebagaai individu-individu yang berbeda.
Mengakhiri uraian tentang ciri-ciri pokok teori Rogers, mungkin masih terdapat keheranan, mengapaa teori tersebut dinamakan person concered atau berpusat pada pribadi, bukan pada organismik concered atu berpusat pada organisme.  Jawabanya sangat sederhana. Dalam individu yang berfungsi sepenuhnya, sang pribadi adalah juga si organisme. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada perbedaan antara kedua istilah tersebut. Istilah pribadi lebih disukai karena lebih bermakna psikologis. Pribadi adalah organisme yang mengalami. Pribadi dan diri adalah juga sama apabila diri benar-benar kongruen dengan organisme. Kesimpulannya, organisme sebagai suatu sistem yang hidup, bertumbuh, dan bersifat holistik merupakan realitas pssikologis dasar. Setiap bentuk penyimpangan dari realitas dasar ini akan mengancam integritas pribadi yang bersangkutan.

2.3       Aplikasi Metode Teori Psikoterapi yang Dikemukakan Oleh Carl Rogers.
Rogers memiliki pengaruh besar dalam praktek psikotrapi. Dalam terapi Rogers, terapis cendrung bersifat sportif dan tidak mengarahakan. Terapis beremapti terhadap klien dan memberikan penghargaan yang tulus. Selama berkecimpung di bidang konseling anak dan psikologi klinis, rogers menyadari bahwa klienlah yang paling memahami letak permasalahan dan aarah terapi seharusnya berlangsung. Rogers juga memadang orang sebagai sebuah proses perubahan sekumpulan potensi.
Rogers juga berpendapat bahwa ada dua kondisi utama yang diperlukan agar tercipta perubahan kepribadian dalam psikotrapis :
Pertama, terapis harus bias memperlihatkan perhatian yang tulus terhadap klien.
Kedua, terapis memiliki pemahaman yang empatis dalam arti terapis harus bisa merasakan ketegangan dan perasaan yang dirasaankan kliennya.
Yang menarik dari metode Rogers ialah selain teknik dan prosedurnya itu sendiri ada juga keberanian Rogers untuk merekam proses wawancara dalam psikotrapinya untuk kemudian membahasnya bersama teman-teman sejawatnya atau mahasiswanya. Di masa lalu keterbukaan semacam ini masih langka dan langkah-langkah Rogers dianggap sebagai printis untuk kemajuan pengembangan metode psikotrapi.
Dalam dunia psikologi Rogers selalu dihubungkan dengan metode psikoterapi yang dikemukakan dan dikembangkannya ini menjadi popular karena:
1.    Secara historis lebih terikat kepada psikologi dari pada kedokteran.
2.    Mudah dipelajari.
3.    Untuk mempergunakannya dibutuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian.
4.    Lamanya perawatan lebih singkat jika dibandingkan misalnya dengan terapi secara psikoanalistis.
Dasar dari teknik ini adalah manusia mampu memulai sendiri arah perkembangannya dan menciptakan  kesehatan dan menyesuaikannya. Sebab itu, konselor harus mempergunakan teknisnya untuk memajukan tendensi perkembangan klien tidak secara langsung tetapi dengan menciptakan kondisi perkembangan yang positif dengan cara permisif. Konselor sebanyak mungkin membatasi diri dengan tidak memberikan nasihat, pedoman, kritik, penilaian, tafsiran, rencana, harapan, dan sebagainya.
Dengan cara ini, konselor dapat membantu klien untuk mengemukakan pengertiannya dan rencana hidupnya. Untuk memungkinkan pemahaman ini konselor diharapkan bersifat dan bersikap:
1.    Menerima (Acceptance) : Sikap terapis yang ditujukan agar klien dapat melihat dan mengembangkan diri apa adanya.
2.    Kehangatan (Warmth) : Ditujukan   agar  klien   merasa  aman   dan memiliki penilaian yang lebih positif tentang dirinya.
3.    Tampil apa  adanya (Genuine) : Kewajaran yang perlu ditampilkan oleh terapis agar klien memiliki sikap positif.
4.    Empati (Emphaty) : Menempatkan diri dalam kerangka acuan batiniah (internal frame  of reference),  klien   akan memberikan manfaat besar dalam memahami diri dan problematikanya.
5.    Penerimaan tanpa  syarat (Unconditional positive  regard) : Sikap penghargaan tanpa tuntutan yang ditunjukkan terapis pada klien, betapapun  negatif perilaku atau sifat klien, yang kemudian sangat bermanfaat dalam pemecahan masalah.
6.    Transparansi (Transparancy) : Penampilan  terapis  yang transparan atau tanpa topeng pada saat terapi berlangsung maupun dalam kehidupan keseharian merupakan hal yang penting bagi klien untuk mempercayai dan menimbulkan rasa aman terhadap segala sesuatu yang diutarakan.
7.    Kongruensi (Congruence) : Konselor   dan  klien  berada pada hubungan yang sejajar dalam relasi terapeutik yang sehat. Terapis bukanlah orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kliennya.
Kondisi-kondisi yang memungkinkan klien mengubah  diri secara konstruktif mengharuskan klien dan terapis berada dalam kontak psikologis. Dengan demikian, akan dapat dilihat perubahan yang terjadi dalam proses terapi antara lain :
1.  Klien akan mengekspresikan pengalaman dan perasaannya tentang kehidupan, dan problem yang dihadapi.
2.  Klien akan berkembang menjadi orang yang dapat menilai secara tepat makna perasaannya.
3.  Klien mulai merasakan self concept antara dirinya dan pengalaman mereka.
4.  Klien sadar penuh akan perasaan yang mengganggu.
5.  Klien mampu mengenal konsep diri dengan terapi yang tidak mengancam.
6.  Ketika terapi dilanjutkan, konsep dirinya menjadi congruence.
7.  Mereka mengembangkan kemampuan dengan pengalaman yang dibentuk oleh unconditional positive regard.
8.  Mereka akan mengevaluasi pengalaman-pengalamannya sehingga mampu berelasi sosial dengan baik.
9.  Mereka menjadi positif dalam menghargai diri sendiri.
Setelah terapi, klien akan mendapatkan insight secara mendalam terhadap diri dan permasalahannya.
1.    Mereka menjadi terbuka terhadap pengalaman dan perasaannya sendiri.
2.    Dalam pengalamannya sehari-hari mereka bisa mentransendensikan, jika diperlukan.
3.    Mereka menjadi kreatif. Mereka merasa dalam hidup menjadi lebih baik, juga dalam hubungan dengan orang lain.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia / individu. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

3.2 Saran
Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata-mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.
Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif.
Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.
Disini melihat dari kelemahan pandangan Rogers yang bisa dijadikan masukan sebagai penyempurnaan pandangan Rogers yang berfokus pada diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar